Implementasi Ketaqwaan
Dalam dunia pendidikan, teori dan praktik adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Pasalnya, keduanya dibutuhkan satu sama lain, Teori yang dimaksud adalah inti dari bidang ilmu pengetahuan yang sudah dirangkum menjadi sebuah buku atau kumpulan hasil penelitian yang sudah terbukti hasilnya. Sedangkan praktik adalah implementasi dan aksi nyata dari sebuah teori yang sudah ada. Orang awam selalu mengaitkan bahwa praktik harus sesuai dengan teori, begitupula sebaliknya, teori seharusnya terlahir dari sebuah praktek yang telah diuji keberhasilan atau kebenarannya. Hal ini terus menjadi acuan bagi dunia pendidikan khususnya Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki visi misi peserta didiknya menjadi tenaga kerja profesional, wirausaha dan melanjutkan pendidikan.
Terlepas dari itu, pernahkah kamu berpikir bahwa teori dan praktik juga harus sejalan dengan ketaqwaan kita sebagai hamba Allah. Sebagai Hamba Allah, kita diwajibkan untuk menuntut ilmu. bahkan sampai ada pepatah mengatakan "carilah ilmu sampai ke negeri China". Hal ini menandakan betapa pentingnya menuntut ilmu bagi seorang muslim. Menuntut ilmu akan membawa kita dari kegelapan menuju cahaya, mengetahui cara beribadah yang benar sesuai dengan tuntunan, mempermudah dalam mencari jalan rezeki, menjaga kesehatan dan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.
Dari segi praktik, kita sebagai umat muslim dikaruniai Rosulullah SAW sebagai uswatun hasanah atau contoh yang baik. Rasulullah SAW adalah bentuk nyata implementasi dari ilmu yang bersumber dari Al Qur'an. Kita bisa mengetahui akhlak yang mulia, yang dicintai Allah SWT melalui Rosulullah SAW. Selain itu, dari Akhlak rosul, kita bisa mengetahui sunah sunah nya mulai dari bangun tidur, berniaga, bersosialisasi, menghadapi ujian, hingga tidur yang masih bernilai ibadah.
Sebagai ummat Rosulullah SAW di akhir jaman, implementasi dari Al-Quran, Hadist dan sunnah Rosulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Perkembangan teknologi, budaya dan arus informasi akan sangat mudah mempengaruhi tingkat keimanan dan ketaqwaan seseorang. Namun satu hal yang perlu di ingat bahwa bagaimanapun lingkungan kerja dan keluarga kita, marilah kita bertanggung jawab dengan kehidupan yang kita miliki. Bagaimana caranya?
Bertanggung jawablah kepada Allah dengan beribadah tepat waktu. Karena tujuan kita hidup didunia adalah untuk beribadah, bekerja adalah kegiatan mengisi waktu luang untuk menunggu waktu ibadah tiba.
Bertanggung jawablah kepada Allah dengan cara bekerja tepat waktu. Karena sebagai orang yang beriman dan telah menuntut ilmu, pekerjaan kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Gaji yang kita terima merupakan perjanjian kerja bukan hanya antara kita dengan pemilik perusahaan, tetapi juga dengan Allah SWT. Ketika kita bolos kerja/ingkar janji/korupsi uang dan waktu kerja, anggap saja kita telah berpeluang menjadi orang yang ingkar janji, berpeluang gaji yang peroleh menjadi haram karena kewajiban yang tidak terpenuhi. Takutlah kepada azab Allah yang sangat pedih itu.
Bertanggung jawablah kepada Allah dengan bekerja sebaik-baiknya, maksimalkan potensi yang kamu miliki sekalipun kamu sedang malas, diuji dengan berbagai masalah dan tantangan lainnya, semata-mata karena ingin bertanggung jawab kepada Allah SWT, bukan untuk mencari perhatian pimpinan atau ingin terlihat keren dimata manusia lainnya.
Abaikan orang lain yang tidak mau mengimplementasikan keimanannya dalam kehidupan sehari hari. Biarlah itu menjadi tanggungjawabnya dengan Allah. Doakan saja semoga mereka segera mendapat hidayah. Tugas kita adalah fokus terhadap hidup kita dan bersosialisasi dengan baik.
Namun bagaimana dengan kasus orang yang gemar menuntut ilmu tetapi dia tidak mau mengimplementasikan ilmu yang diperolehnya? untuk hukum nya marilah kita serahkan kepada ahlinya atau silahkan cari tahu dan simpulkan sendiri.
Comments